Sekolah Bukan Penjara, Rayakan Lulus Ujian dengan Corat-coret

by Tantra Nur Andi
PONTIANAK—Tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bermacam-macam tingkah laku para siswa SMA dan SMK setelah pengumuman kelulusan. Ada yang langsung sujud syukur ketika dirinya dinyatakan lulus, ada juga yang langsung melakukan aksi corat-coret seragamnya dengan spidol atau pilox dengan penuh kegirangan tanpa mempedulikan orang di sekitarnya.
Tidak tahu sejak kapan tradisi corat coret ini mulai ada. Para siswa selalu saja meluapkan emosionalnya dengan mencoret pakaian dan berpawai keliling kota.
“Saya senang karena saya lulus mas,” jawab Rido, siswa SMKN 1 Pontianak singkat ketika ditanya mengapa mencorat-coret seragamnya, Sabtu (14/6).
Bagi Rido, Sabtu (14/6) kemarin menjadi sejarah baru bagi dirinya. Ia kini telah lulus SMA dan akan memasuki masa-masa lepas sekolah. Tampak sekali kegembiraan di wajah mereka jika bisa lulus sekolah. Ibarat orang yang lepas dari penjara, para siswa seakan baru bisa menghirup udara bebas jika telah lulus SMA.
Benarkah sekolah ibarat sebuah penjara yang memenjarakan kebebasan siswa berekspresi. ”Capek mas sekolah belajar terus pagi, siang, malam. Apalagi saat mau UAN, jadi sekarang kami bebas, tidak pusing dan tidak tertekan harus belajar terus,” ungkap Iwan Kurniawan, salah seorang siswa yang ikut aksi corat coret pakaian bersama teman-temannya.
Berbeda dengan yang lulus, para siswa yang dinyatakan tidak lulus terlihat langsung menangis dan banyak juga yang langsung pingsan.
”Bu bagaimana masa depanku, aku ngak lulus,” teriak salah seorang siswi SMKN 1 sambil memeluk ibunya. Rata-rata siswa yang tidak lulus ini merasa habis sudah masa depan mereka. Para siswa beranggapan gagal UAN berarti gagallah hidup mereka.
Di SMKN 1 ini banyak siswa dan siswi terlihat berteriak histeris dan menangis. Beberapa ada yang langsung pingsan setelah membaca surat dari sekolah yang berisi pengumuman lulus dan tidak lulus. Para dewan guru terlihat kewalahan mengurus siswa-siswi yang pingsan. Guru-guru inipun tampak pasrah menyaksikan banyak anak didiknya tidak lulus. ”Rasa sedih sudah pasti tapi apa daya, usaha semaksimal mungkin sudah dilakukan. Ini sudah takdir,” ungkap Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan SMKN 1 Pontianak, Drs. Toto Sulistianto.
Ia hanya bisa berharap para siswa yang tidak lulus UAN di sekolahnya mau belajar kembali dengan mengulang ke kelas XII.
”Karena tidak ada paket C untuk SMK maka siswa yang tidak lulus mesti mengulang kembali. Kita telah menghimbau siswa untuk mengulang jangan sampai berhenti sekolah, sayang jika tidak tamat sekolah. Tidak lulus UAN bukan berarti siswa gagal hidupnya,” katanya.
Di SMKN 1 ini, kata Toto hasil UAN tahun ini benar-benar anjok. 113 siswa dinyatakan tidak lulus dari 247 siswa yang mengikuti UAN atau sekitar 45,74 persen tidak lulus. Rata-rata penyebab ketidaklulusan para siswa ini adalah pelajaran matematika yang rata-rata di bawah 4,00. Selain matematika, rendahnya nilai pelajaran Bahasa Inggris juga menjadi penyebab siswa tidak lulus.
”UAN matematika untuk SMK memang sulit,” ujarnya.
Selain di SMKN 1, para siswa di SMAN 2 Sungai Ambawang juga banyak tidak lulus. ”Dari 64 siswa yang mengikuti UAN, hanya 2 orang yang lulus,” kata Waka Kurikulum SMAN 2 Sungai Ambawang, Beni Diktus.
Beni mengaku tidak tahu mengapa banyak siswanya yang tidak lulus yang jelas para guru di sini telah berusaha semaksimal mungkin.
Tahun ini, UAN memang benar-benar sulit, kalau tahun lalu di SMAN 1 Pontianak semua siswanya dinyatakan lulus, tahun ini ada tiga orang siswa jurusan IPA yang tidak lulus.
”Nilai mereka jatuh di matematika dan pelajaran kimia,” kata Waka SMAN 1 Pontianak, Raziono.

Leave a Reply