Lunturnya Jiwa Nasionalisme

By Agus Wahyuni

PONTIANAK-seandainya para pejuang terdahulu yang gugur di medan perang melawan penjajah tahu, usia hari Kebangkitan Nasional sudah mencapai angkat seratus tahu. Saya yakin, ia akan sedih melihat keadaan bangsanya saat ini. Kemakmuran dan keadilan belum tercapai. Gizi buruk ada dimana- mana, harga BBM dan kebutuhan pokok melambung, dan dan masih banyak rakyat yang miskin.

Kemakmuran sebagian tercapai, tapi keadilan belum. Benang merahnya “Jiwa nasionalisme kita sudah mulai luntur.”

Ketua DPD Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Provinsi Kalbar, HR Harsono S menyatakan hal itu, di kediamannya, Jalan Sumatera, Gang Mekar, Rabu, (14/5).

Diusianya mengnjak kepala delapan, Harsono, pensiunan dengan pangkat Letnan Kolonel, masih bersemangat menceritakan masa perjuangannya, mempertahankan kemerdekaan RI.

Tahun 1934- 1942, Jepang masuk, pada waktu itu saya masih sekolah teknik, bernama Kongyogako, setingkat SMP yang didirikan oleh Jepang. Di tahun 1945, saya masih duduk di kelas empat, terjadi revolusi, kemudian guru saya mengajak untuk berjuang, menjadi tentara pelajar 1945.

Pada waktu itu, saya hanya membawa bambu runcing, karena statusnya masih tentara pelajar. Bertugas hanya ikut tentara saja, begitu pertempuran tak seimbang, dengan lawan, kita mundur ke gunug, lalu pulang ke kampung saya, Purwekerto, Jawa Tengah.

Disana saya memutukan untuk masuk menjadi Badan Keamanan Rakyat BKR, sekarang bernama TNI, pada tahun Desember 1946-dan pensiun di tahun 1983..

Perjuangan Bung Karno untuk menuju masyarakat adil dan makmur, antara tentara dan rakyat bersatu mengusir penjajahan.

“Seperti ikan dalam air.”Tentara turun satu regu, rakyat turun seribu, kata Suharsono.

Padahal waktu itu, hanya menggunakan senjata sederhana, dan rakyat masih menggunakan bambu runcing, dengan melawan musuh yang dibekali senjata modern, baik dari darat, laut , dan udara. Sedangkan kita masih menggunakan kapal dagang, sementara pesawat satu buah buah. Tapi dalam waktu lima tahun , pemuda Indonesia bisa memerdekakan bangsanya.

Lanjut Harsono, jika kita melihat sejarah perjuangan pahlawan kita pada masa melawan penjajahan Belanda, tepatnya tahun 1602, pada waktu itu, para perjuangan seperti Tengku Umar, Iman Bonjol, Singsimaharaja, Patimura, Sultan Hasanudin, dan peuang kalbar, Pangeran Natakusuma, 350 tahun tidak bisa merdeka.

Karena pada waktu itu bentuk perlawanan masih berdiri sendiri.

Begitu juga pada waktu Patih Gajah Mada, pemimpin Majapahit, bisa menguasai se Asia Tenggara, karena bersatunya rakyat pada waktu itu, kemudian setelah becerai berai,

Satu persatu daerah yang dikuasai mengalami pemisahan, dan terjadinya penjahahan dari pihak asing, seperti Malaysia yang dijajah Inggris, Nusantara dijajah belanda, Malaka dijajah oleh Inggris, Fhilipina oleh Amerika, dan Vietnam dijajah Francis.

Dari pengalaman itu, maka ide oleh para pemuda yang diprakarsai para doktor muda, seperti DR Wahidimn, DR Sutomo, berkeingin membangun semangat nasionalisme, dengan mempersatukan daerah- daerah yang pada waktu itu mash terkotak- kotak.

Tepatnya pada tahun 1928, para pemuda, membuat persatuan di tiap pulau,seperti Young Sumatra, Jawa Ambon, dan kalbar sendiri bernama Young Sambas. Lalu menggelar semacam proklasami, yang disebut dengan sumpah pemuda, “Berbahasa Satu Bahasa Indonesia,” kata Harsono.

Walaupun cerita itu masih pada waktu masa penjajahan, setidaknya, generasi muda menanaman nilai- nilai kebangkitan nasional, agar jangan lagi negara Indonesi yang besar ini terjajah yang kesekian kalinya.

100 abad telah berlalu, Indonesia rasanya sulit untuk malangkah maju, selama jiwa nasionalisme belum terpatri pada generasi muda. Ini bisa dilihat, Nasionalisme generasi muda sudah mulai luntur.

Menurut Harsono, pola pikir generasi muda lebih mengarah matrelaistis, ketimbang rasa kebersamaan, rela berkorban, pantang menyerah, dan cinta pada tanah air dan bangsa.

“Semua bekerja dengan pamrih, mengharapkan imbalan, yaitu uang.”

Ia berkata, walaupun saat ini, perkembangan demokrasi bangsa Indonesia mengalami kemajuan, tapi tujuannya hanya untuk kepentingan politik saja . dengan memanfaatkan suku, dan agama, setelah terpilih, justru hanya mementingkan kelompok tertentu saja.

Lunturnya jiwa nasionalisme juga bisa dilihat sekarang, dengan melambungnya harga BBM. Padahal dulu Indonesia kaya dengan minyak mentah, andai kata pada waktu itu, Indonesia sudah memiliki kilang minyak, tentu kenaikan harga minyak dunia, Indonesia mencicipi keuntungan itu, bukan menambah beban rakyat.

Salah satu pemicunya, karena kebodohan pemimpin kita, yang berjiwa matrealistik, dengan memanfaatkan pihak asing dengan mengekspor, lalu dapat komisi, kemudian minyaknya sudah matang, dibeli lagi oleh Indonesia, lagi – lagi pemimpin kita dapat komisi, dari hasil beli minyak tadi.

Tanpa ada usaha dan kerja keras, tanpa pamrih, seperti para pejuang merebut kemerdekaan, tanpa dibayar sepersen pun, demi tumpah darah Indonesia.

Begitu juga dengan pangan, seperti beras, gula , dan kedelai, dijaman Soeharto, Indonesia mengalami surplus, bahkan hasil bumi tadi bisa di ekspor ke luar, tapi sekarang, kebalikan, dengan mengimpor dari luar.

Karena para menterinya, hanya mau terima bersih, tidak bekerja kerja keras, lagi- lagi bekerja dengan pamrih.

Benang merah dari lunturnya nasionalisme, karena pemimpin kita sudah tidak ada yang dijadikan sebagai panutan, dari kebangkitan Nasionalisme, setelah bung Karno, kebanyakan mereka bekerja dengan pamrih, dan memanfaatkan suku, agama demi kekuasaan sesaat.

“Jika sekarang ini masih generasi muda masih terkotak- kota, bukan tidakmungkin, tanah air kita akan dijajah kembali, 100 tahun silam.”

Diakui Harsono, saat ini, kekuatan rakyat ada di tangan demokrasi, saat ini mengalami kemajuan, tapi sayang demokrasi hanya untuk kepentingan politik, sementara untuk rakyat tidak ada.

Sementara gaji anggota DPRD mapupun eksekutif jauh lebh tinggi daripada buruh, petani dan pejuang veteran seperti saya. kata Harsono.

Bagaimana tidak, untuk pejuang veteran saja, saat ini saat ini tidak dihargai dengan kesejahteraan. Pejuang laskar perang griliya, perbulan hanya mendapatkan Rp 700.000. sementara dari pensiunan TNI tak mendapatkan sepersen pun. Hanya menerima gaji pensiunan saja.

Itupun ditambah dengan piagam penghargaan atas jasanya membela tanah air, berupa selembar kertas, hanya bisa disimpan di dalam lemari.

Padahal, berdasarkan Undang- Undang Nomor 7 pasal 20 tahun 1967 menyatakan, pemerintah wajib memperhatikan dan membina veteran.

“Tapi sampai saat ini, belum terealisasi.”

Suharsono yang pernah menjabat sebagai ketua DPRD kota Pontianak tahun 1992-199 7, mengingatkan, jika tidak ada pejuang pada waktu itu, bapak- bapak yang duduk di kursi eksekutif maupun legislatif, pasti, kursi- kursi itu masih diduduki penjajah asing.

Tapi, pejuang seperti saya dan lainnya, yang telah mendahului, sedikit pun tak pernah menyesal, karena sudah konsekuensi sebagai pejuang. Berjuang tanpa pamrih, p[ada waktu itu, tujuannya hanya satu, merebut kembali kemerdekaan NKRI.

This entry was posted on Friday, May 16th, 2008 and is filed under Kota Pontianak. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply